Hujan Deras Disertai Angin Terjang Kudus Sebabkan Empat Rumah Longsor
KUDUS - Hujan deras disertai angin sejak Minggu (6/12) hingga kemarin malam membuat empat rumah di Desa Colo, Dawe, Kudus, terdampak. Dua rumah longsor. Satu bangunan atapnya terbawa angin.
Kepala Desa Colo Destari Andreasmoro menyatakan kejadian tersebut diakibatkan oleh intensitas hujan sejak Minggu (06/12). Kejadian longsornya dua rumah warga RT 3/4 Desa Colo terjadi pukul 21.00. Lokasi terjadi pada rumah milik Ali Syahroni. Kondisinya saat itu bagian dapurnya mengalami longsor. Sementara satu halaman rumah mengalami hal sama.
Hal serupa terjadi di RT 4/3 yang mengalami longsor di bagian halaman rumah. ”Tanah longsor terjadi karena adanya curah hujan tinggi. Pondasinya tak mampu menahan resapan air. Sehingga mengakibatkan longsor,” katanya.
Sedangkan lokasi atap rumah warga yang terbawa angin terjadi di RT 5/3 Dukuh Pandak, Desa Colo. Kejadian tersebut berlangsung pada pukul 01.00. Saat itu kondisi cuaca terjadi hujan disertai angin kencang.
Kondisi longsor tersebut, kata Andreas sempat menutup akses jalan warga. Kemarin pagi, warga bersama tim relawan membersihkan material tanah yang menutupi jalan. Sekaligus membereskan rumah warga yang terbang tersapu angin.
”Dari kejadian ini tidak korban jiwa, total kerugian dialami warga ditaksir Rp 25 juta,” katanya.
Pihaknya tak memungkiri bahwa kondisi di pegunungan rawan akan tanah longor. Sekaligus angin kencang ketika musim hujan. Dirinya meminta masyarakat tetap waspada dan tanggap akan bencana.
”Longsornya tidak terlalu ekstrim kalau di Colo, kami meminta warga tetap waspada dan tetap menjaga lingkungan,” terangnya.
Terpisah Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus Budi Waluyu menyatakan, warga yang tinggal di pemukiman rawan longsor tetap berhati-hati. Sekaligus waspada terhadap pergerakan tanah. Curah hujan yang tinggi akan berdampak pada longsornya tanah.
”Untuk tahun ini longsor terjadi di Desa Soco dan Rahtawu, kami minta warga tetap waspada,” ungkapnya.
Kepala Ex-Officio Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus Sam’ani Intakoris berpesan kepada masyarakat agar tetap waspada menghadapi cuaca ekstrim pada musim penghujan. Jika ada bencana yang terjadi, dirinya meminta warga agar bisa gerak cepat melakukan evakuasi mandiri. Hal ini untuk mempercepat proses evakuasi agar tidak menimbulkan dampak yang lebih buruk.
”Semua harus sigap. Desa harus melakukan gotong royong utnuk antisipasi dan penanganan bencana,” katanya.
Melalui pembentukan desa siaga bencana yang telah dilakukan, masyarakat diharapkan telah sadar dan paham bencana. Jadi sudah otomatis mengerti apa yang dilakukan bagaimana langkah untuk antisipasi. Dan paham apa yang harus dilakuakn untuk penanganan bencana.
”Meskipun demikian, BPBD dan Puskesmas tetap harus siaga. Semuanya tetap siaga dan waspada. Komunikasi dan koordinasi antara pemerintah desa, aparat dan relawan harus terjain dengan baik,” ujarnya.
Dirinya mengapresiasi upaya masyarakat dalam mengatasi bencana longsor yang terjadi di tiga titik pada Minggu-Senin. Sebelum relawan BPBD datang ke lokasi, warga sudah berinisiatif untuk mengevakuasi. Sehingga proses evakuasi bisa berjalan lebih cepat dan lancar.
Pada Minggu (6/12) lalu terjadi longsor di dua titik. Pertama di RT 6/RW1 Dukuh Krajan, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog. Material longsor berupa tanah menutup total jalur Rahtawu-Semliro. Penyebabnya hujan dengan intensitas tinggi sejak pagi hingga siang. Sehingga membuat tebing tergerus air hujan. Tidak adanya pohon besar yang memperkuat kontur tebing.
Kemudian longsor juga terjadi di RT 5/RW5 Desa Menawan, Kecamatan Gebog. Senderan bangunan rumah Kemisih ambrol. Lalu pada Senin (7/12) sekitar pukul 01.30, longsor juga terjadi di RT 3/RW 4 Dukuh Kumbang, Desa Colo, Kecamatan Dawe. Material longsoran menutup sempat akses jalan masuk pemukiman warga.
Selain itu pohon tumbang terjadi di kawasan air tiga rasa Rejenu di Desa Japan, Dawe, Kudus, sekitar pukul 22.00 Minggu (6/12). Pohon itu menimpa empat warung makan. Juga toilet di daerah itu.
Beruntung kejadian ini tak memakan korban jiwa. Namun mengakibatkan kerugian materiil.
Kepala Desa Japan Sigid Triharso menjelaskan sekitar pukul 23.30 ada informasi dari Rejenu disampaikan ke pihaknya. ”Kami baru bisa evakuasi paginya (kemarin, Red),” tambahnya.
Dari pemaparan Sigid, evakuasi itu ditangani pemilik warung, warga sekitar, dan satgas siaga Desa Japan. Juga relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus.
Dari pengamatan Jawa Pos Radar Kudus usai dibersihkan, kondisi jalan masih tersisa patahan pohon. Namun pengguna jalan sudah lalu lalang melintasi jalan itu.
”Proses evakuasinya memang butuh waktu lama. Sampai pukul 16.00 dihentikan dulu. Dilanjutkan esok hari karena faktor cuaca,” terangnya.
Menurut Sigid kerugian ditafsir mencapai sekitar Rp 60 juta. Bahkan bisa lebih. ”Kerugiannya ya material warung dan isinya itu. Seperti seng dan lainnya. Kan bisa jadi banyak. Ada buat WC juga,” jelasnya.
Sigid juga menerangkan tinggi patahan pohon sekitar 10 meter lebih. Kebanyakan turunan. Diameter patahan sekitar satu meter lebih. Namun pohonnya besar. Lebih dua kali lipat.
Sigid mengatakan pohon ambruk karena hujan angin. ”Hujan angina terjadi sejak kemarin (Minggu (6/12)) sore hujan angin. Sekitar pukul 16.00 sampai malam,” imbuhnya.
Dia menjelaskan di lokasi kejadian biasanya ada orang yang tidur. Namun beruntung saat pohon tumbang ia tak ada di tempat. “Pada saat itu kan anginnya kencang. Jadi kemarin malam dia pulang. Akhirnya dia turun,” paparnya.
Sigid mengimbau kepada pemilik kios untuk tidak berjualan untuk sementara waktu. Untuk menghindari hal serupa terjadi lagi. Daerah ini memang menjadi langganan hujan deras. Pemdes Japan senantiasa siap sedia membantu jika terjadi kesusahan pada warganya. (ant)